PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN
ditulis oleh:
Wikanti Nur Amaliyah, S. Si., M. Eng
Kepala SMA Negeri 1 Belik
Pemahaman tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan transformasi pendidikan Indonesia yang berpihak pada anak
>Makna menuntun
Pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa ‘kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu’ tiada lain ialah segala kekuatan yang ada dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu karena kekuasaan kodrat. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.
>Budi pekerti
Tentu anak tersebut perlu mendapatkan tuntunan agar semakin baik budi pekertinya. Anak yang dasar jiwanya tidak baik dan juga tidak mendapat tuntunan Pendidikan, tentu akan mudah menjadi orang jahat. Anak yang sudah baik dasarnya juga masih memerlukan tuntunan. Tidak saja dengan tuntunan itu ia akan mendapatkan kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan tetapi dengan adanya tuntunan itu ia dapat terlepas dari segala macam pengaruh jahat. Tidak sedikit anak-anak yang baik dasarnya, tetapi karena pengaruh-pengaruh keadaan yang buruk, kemudian menjadi orang
>Peran menuntun sesuai sistem among
Kegiatan Pendidikan di sekolah adalah dengan sistem among, anak di ajak bermain diluar kelas sekaligus mengenalkan panca indra, guru disebut sebagai among artinya orang yang mendampingi anak saat bermain. Melihat kondisi anak kita sendiri seperti yang dtelah dijelaskan diatas, sudah barang tentu bahwa kita bangsa Indonesia juga memiliki sejenis metode Montessori dan metode Froble yaitu Metode Kodrat Iradat (Natur dan Evolusi). Bisa juga dinamakan metode Kaki Among Nini Among, yaitu metode Among Siswa.
>Makna dari kata merdeka
Pendidikan yang memerdekakan adalah Pendidikan yang membebaskan anak untuk berkreasi sesuai dengan bakat dan minat mereka. KHD menganalogikan anak seperti benih, sedangkan guru sebagai petani. Sebagai seorang petani, maka guru tugasnya adalah mempersiapkan ladang yang subur, kemudian benih-benih tersebut di sebar di ladang, petani menjaga ladang tersebut. Sama seperti guru yang senantiasa menjaga anak-anak, agar terawatt dan mencapai masa depan sesuai dengan minat dan bakatnya. Benih jagung tentunya tidak akan berbuah padi, demikian sebaliknya. Demikian juga anak atau siswa, punya kemampuan yang berbeda-beda, kita tidak mungkin memaksakan anak yang berbakat di matematika untuk jago dalam bermain sepakbola, demikian juga sebaliknya. Seperti itulah Pendidikan, kita tidak boleh memasakan siswa untuk melawan kodratnya, tugas kita hanyalah memfasilitasi mereka agar mereka bisa berkembang sesuai dengan kodrat jamannya
>Kodrat anak bermain adalah sama dengan belajar
Dalam permainan banyak sekali pengetahuan yang bis akita ajarkan. Jadi masukan pengetahuan-pengetahuan ke dalam permainan, sehingga tanpa di sadari sambil bermain anak-anak sebenarnya juga sedang mempelajari sebuah konsep pengetahuan. Seperti itulah proses Pendidikan di taman siswa.
>Menghamba pada murid
Tujuan dari Pendidikan adalah murid, murid dan murid. Jadi subjek dari Pendidikan itu pada hakikatnya adalah murid, oleh karena itu kita harus melayani kebutuhan murid. Agar mereka mampua mengaktualisasi bakat dan minat mereka, sehingga mampu bermanfaat bagi mereka dimasa depan
>anak bukan tabularasa
anak bukanlah tabularasa atau kertas kosong yang tidak memiliki apa-apa, justru sebaliknya anak terlahir memiliki kelebihan, dan tugas kita adalah menggali potensi yang ada dan memfasilitasinya agar bermanfaat bagi anak tersebut. Selain itu tugas kita menuntun atau mengarahkan agar murid tidak menyimpang dari aturan hidup.
>analogi petani menjelaskan tentang kodrat anak
sesungguhnya guru diibaratkan sebagai petani, murid adalah benih. Jadi tidak mungkin seorang petani menanam padi dan mengharapkan hasil yang dipetik adalah jagung, demikian juga sebaliknya. Demikian juga dengan siswa, guru hendaknya memfasilitasi kebutuhan siswa sesuai dengan kodratnya. Dengan mikian maka siswa akan merasa merdeka dalam belajar sehingga mereka bisa Bahagia dalam bersekolah dan lebih cerah dalam menatap masa depan, karena belajar denga sukacita.
Pemahaman tentang Pendidikan yang Memerdekakan menurut pemikir - pemikir yang selaras dengan pemikiran KHD dan menjadi acuannya (Metode Montessori dan Taman Anak Frobel)
Melihat kondisi anak kita sendiri seperti yang dtelah dijelaskan diatas, sudah barang tentu bahwa kita bangsa Indonesia juga memiliki sejenis metode Montessori dan metode Froble yaitu Metode Kodrat Iradat (Natur dan Evolusi). Bisa juga dinamakan metode Kaki Among Nini Among, yaitu metode Among Siswa.
Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila
Filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekaan jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil pelajar pancasila adalah saling berkaitan dimana pendidikan yang memerdekaan sebagai dasar dari pembentukan profil pelajar Pancasila. Jika proses pendidikan sudah menggunakan prinsip pendidikan yang memerdekakan akan lebih mudah terwujudnya 6 profil pelajar Pancasila yaitu Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif


